s.h.i.s.h.i.m.a.r.u
arsitek
rasionalis
sensitif
introfert
perfeksionis
royal
loyal
antisosial
internetaddict
gaksukakomik
gakenakan
japanfreak
utopis
libra
jawa
|
 |
Monday, February 14, 2005
[paper seminar belum jadi]
Modernisasi Johor Baru
dan Kematian Kawasan Pusaka Old Shop Houses
Background
Dalam konteks Negara Kerajaan Malaysia, Johor Bahru, is the State Capital built in 1855 by the late Sultan Abu Bakar, memiliki peranan yang sangat khusus. Kota terbesar kedua Negara Malaysia setelah Ibu Kota Malaysia Kuala Lumpur ini, merupakan gerbang utama Semenanjung Malaysia di ujung selatan, sekaligus sebagai wajah Malaysia yang berhadapan langsung dengan kota international, yang juga oleh Koolhaas disebut kota generik, Singapura. Negara Malaysia, lewat Johor Bahru tidak mau kalah dengan Negara Singapura lewat Kota Singapura. Visi Johor Bahru sebagai kota internasional yang sejahtera pun dicetuskan, walaupun akhirnya lebih ke arah meningkatkan prestis di mata internasional dibandingkan untuk menyejahterakan warga kota sendiri. Dalam struktur ruang kota yang menyimpan banyak memori historis, kota Johor Bahru mulai berkembang menjadi kota modern, kota international.
Superblok dan Fragmentasi Ruang Kota Johor Bahru
Superblok adalah kota kotak besar. Kota di dalam kota. Kota yang memisahkan diri dari sekitar, bahkan sejarah. Adalah juga pulau. Modernisasi di Johor Bahru mendorong pemanpatan aktivitas urban ke dalam struktur kompak kota kotak superblok, seperti Plaza Kotaraya dan City Square. Tempat-tempat yang demikian ini menjadi ikon baru warga kota, selain Malaysian Idol, dan sinetron-sinetron dari Indonesia. Di luar televisi, tempat yang demikian ramai dikunjungi, bahkan walau hanya untuk window shopping. Jaminan kualitas pelayanan kota di dalam kota kotak superblok, kenyamanan, keamanan, kemewahan, juga prestis, karenan memang demikianlah konsep awal muculnya superblok, menjadikan warga kota sudah cukup hanya dengan kota kotak superblok. Budaya urban adalah, dari rumah , mobil pribadi, kecepatan di jalan raya, underground parkir, elevator, sampai credit card. Di tengah-tengah panasnya suhu udara Johor Bahru, Johor Bahru adalah kota tropis di tepi pantai dan sangat dekat dengan garis khatulistiwa, warga kota terkonsentrasi ke dalam sejuknya konsentrasi modal besar superblok-superblok. Sayangnya setiap kota kotak superblok tidak ada yang terintegrasi dengan kota kotak seprblok yang lain, apalagi dengan yang tidak kota kotak superblok, seperti kawasan pusaka kota. Terjadilah pembagian-pembagian ruang kota ke dalam fragment-fragment kota, dan kawasan pusaka, di Johor Bahru ada kawasan pusaka old shop houses, terjepit keberadaannya, menunggu kematian, perlahan-lahan.
Old Shop Houses District.
Old Shop Houses District berada tidak jauh dari distrik pusat modernisasi Johor Bahru, hanya terbelah Jalan Wong Ah Fook, tapi berbeda jauh tingkat keramaian hidupnya. Konsep awal shop houses, dulu, adalah menggabungkan kebiatan komersial kota dengan kegiatan menghuni. Dengan konsep ini, shop houses menjadi lebih terjaga, lebih terawat, hidup di malam hari, dan pemilik tidak harus menghabiskan waktunya di jalan raya. Yang terjadi sekarang, old shop houses berstatus sewa, siang hari lantai satu dimanfaatkan untuk berdagang tapi saat malam tiba lantai dua ditinggalkan kosong. Mati. Kurangnya aktivitas atau atraksi urban yang menarik, menjadikan warga kota lebih banyak memilih berdesakan di kota kotak superblok. Tempat-tempat yang memiliki nilai strategis, perempatan, ujung jalan, ujung belokan, tidak terdapat aktivitas yang memiliki nilai jual yang tinggi. Jalan dan pedetrian, yang menghubungkan antaraktivitas di old shop houses, yang memberikan nilai hidup sosial kultural kawasan, memiliki kondisi yang buruk. Jalan-jalan yang sempit, tapi tetap dipaksa harus berbagi dengan fungsi parkir. Tidak ada cukup ruang untuk vegetasi dan fasilitas amenitas jalan. Bahkan pedestrian, unsur jalan yang paling banyak memberikan nilai interaksi sosial kultural warga kota, yang berada di bawah archade, selain sebagian besar ruangnya dimanfaatkan untuk mendisplay barang dagangan, kondisinya buruk. Jalan Tan Hok Nie memiliki kondisi fisik yang lebih baik, jalan, pedestrian di kanan kirinya, juga dinding jalannya. Hal ini menjadinya Jalan Tan Hok Nie lebih nyaman bagi warga kota, menjadikan lebih ramai dibandingkan dengan ruas jalan lain di old shop houses Johor Bahru. Sayangnya, letaknya yang di pinggir distrik old shop houses, Jalan Tan Hok Nie kurang bisa membantu menghidupkan distrik old shop houses secara keseluruhan. Perlu dilakukan apa yang sudah dilakukan terhadap ruas Jalan Tan Hok Nie, terhadap ruang jalan lain di distrik old houses yang lebih strategis agar bisa menghidupkan kawasan old shop houses secara keseluruhan. Kalau tiap ruas jalan bisa memiliki kondisi yang lebih baik, maka tidak hanya ruas Jalan Tan Hok Nie yang harusnya bisa menjadi lebih baik.
* Makalah diajukan dalam seminar internasional, culture of living, jurusan arsitektur ugm, t u vienna austria.
Posted at Monday, February 14, 2005 by shishimaru
Permalink
Saturday, February 05, 2005
Cinta Terakhir - Gigi
Tak semestinya
ku merasa sepi
kau dan aku
di tempat berbeda
seribu satu alasan
melemahkan , tubuh ini
aku disini
mengingat dirimu
ku menangis tanpa air mata
bagai bintang tak bersinar
redup hati ini
chorus :
dan ku mengerti sekarang
ternyata kita menyatu
di dalam kasih yg suci
kuakui kamulah cinta terakhir ( cintaku..)
Posted at Saturday, February 05, 2005 by shishimaru
Permalink
Saturday, January 29, 2005
aku menyerah.
aku sudah mencoba tidak menghadirkanmu.
tapi tuhan sepertinya menggodaku.
seperti anak kecil yang memamerkan permennya.
lalu dengan cepat menyembunyikannya di balik baju.
beralih di balik punggung.
lalu mengeluarkan lagi.
lalu menyembunyikan lagi.
lalu lagi.
mungkin memang baru godaan-godaan kecil.
tapi menghindarinya sungguh sulit.
maafkan aku tuhan.
nikmatmu sungguh sulit aku sadari
sampai kau mulai mencabutnya.
Posted at Saturday, January 29, 2005 by shishimaru
Permalink
Thursday, January 27, 2005
di hari pertama aku tidak cukup bisa bertahan.
sekalipun semu, masih juga mengunjungi.
mungkin kemarin aku layak mendapat tamparan tuhan.
menghinaNya. menangis di depanNya. tapi bukan karena Dia.
melainkan karena sebuah perjanjian.
kapan hati ini berkata cukup.
karena aku takut juga tuhan mencukupkan kesabarannya.
Posted at Thursday, January 27, 2005 by shishimaru
Permalink
gelap ini berat ini.
seperti di dalam rahim ibu.
bertapa.
aku bukanlah riwayat raja-raja jawa.
kecil di pelataran.
remaja di padepokan.
dewasa di istana.
tua di pertapaan.
aku adalah korban perang.
atas perang yang aku ciptakan sendiri.
sakit menyayat.
hidup ini indah.
jika hati ini bersih.
lalu aku mencarinya.
di dalam rahim ibu.
gelap ini menutupkan mata.
yang kadang silau.
menggugah hati.
yang kadang tidur.
kerinduan akan semburat dunia.
adalah kerinduan akan nyanyian cinta.
menatap indahnya dunia.
sekalipun dengan mata terkatup.
Posted at Thursday, January 27, 2005 by shishimaru
Permalink
Wednesday, January 26, 2005
GLENN FREDLY - Januari
berat bebanku..meninggalkanmu
separuh nafas jiwaku.... sirna
bukan salahmu.....apa dayaku
mungkin cinta sejati tak berpihak.. pada kita
reff :
kasihku..sampai disini kisah kita
jangan tangisi keadaannya
bukan karena kita berbeda
dengarkan dengarkan lagu... lagu ini
melodi rintihan hati ini
kisah kita berakhir di januari
selamat tinggal kisah sejatiku
oh..... pergilah..........
Posted at Wednesday, January 26, 2005 by shishimaru
Permalink
Cinta Takkan Usai - Pinkan Mambo
Cinta ....
Takkan pernah usai
Meski cinta dalam derita
Saat harapan yang
Gelap kan memudar
Cinta tetap ada
Walau diderai
Aku ....
Aku kan disini
Kenyataan yang harus kulalui
Tak akan ku lari
Walau memang pahit
Walau pun menangis
Tetap kuberdiri
Meski hancurnya hatiku
Meski berat beban ini
Namun kutak sendiri
Karna cinta sertaku
Meski harus kulewati
Seribu jalan yang berliku
Namun kutahu pasti dalam hidupku
Cinta takkan usai
Posted at Wednesday, January 26, 2005 by shishimaru
Permalink
Friday, January 21, 2005
jangan-jangan idul qurban sudah menjadi hanya perayaan kemakmuran umat manusia.
mulut kita bertakbir,
tapi hati kita seperti batu yang tersembunyi.
kita mengalirkan darah domba,
tapi kita juga membayangkan indahnya sorga.
kita menderma kepada yang lemah,
tapi juga berharap yang lemah mau menggantikan kita di neraka yang kita bangun.
apalah artinya sekerat danging sekali dalam setahun,
kalau kita mengerat yang lemah berulang kali sepanjang tahun?
Posted at Friday, January 21, 2005 by shishimaru
Permalink
kadang tiba-tiba. kadang pelan pelan
aku paling sulit berkata sudah, cukup sampai di sini, selesai,
untuk segala sesuatu yang sudah aku usahakan sejak lama.
namun nasib sudah menjadi takdir.
tuhan sudah menjadi tokoh sentral dalam garis hidupku.
padahal, kemarin-kemarin dia sengaja membiarkanku.
apa yang direncanakannya mungkin sakit menurut ukuranku.
tapi memberontak malah hanya menambah rasa sakit.
semua tidak ada akhir.
tuhanku akan membiarkanku lagi.
lalu muncul lagi.
kadang tiba-tiba. kadang pelan pelan.
aku ingin terlahir kembali.
dengan hati yang baru.
Posted at Friday, January 21, 2005 by shishimaru
Permalink
Thursday, January 20, 2005
lalu apa yang terjadi jika kita sama sama telanjang dan hanya menyisakan hati?
siapa sangka kalo kita dilahirkan rupawan?
buruk rupapun kita juga harus bisa menerima.
kita juga tidak bisa memilih hari pertama menangis di bumi.
orang-orang menghukum aku dengan kesalahan yang mereka
perbuat.
ada juga yang bahkan menikmati seolah-olah itu kerja kerasnya.
padahal mustinya dia malu.
padahal kita hanya menerima.
bukannya tuhan tidak adil.
toh bukan dengan itu dia mengukur kita.
lalu mengapa kita tidak telanjang saja?
[belon selesai]
Posted at Thursday, January 20, 2005 by shishimaru
Permalink
|